Rabu, 19 Desember 2012

Bangga Menjadi Muslim

Tak bisa dipungkiri, banyak dari kita sekarang yang kurang percaya diri dengan identitas keislamannya. Mulai dari tren berpakaian hingga ke pola pikir. Kita merasa lebih nyaman kemana-mana mengenakan kaos dan celana jeans. Sebaliknya, kita merasa minder, merasa salah kostum bila mengenakan baju koko atau jilbab. Kita lebih suka mengambil inspirasi dari Chicken Soup daripada membaca kisah para sahabat. Merasa lebih “cerdas dan intelek” dengan menonton Oprah Show daripada datang ke pengajian. Kita merasa takjub ketika tahu Mark Zuckerberg ternyata membuat Facebook di usia 19 tahun, tapi kita merasa biasa saja mengetahui Ali bin Abi Thalib z mulai memperjuangkan Islam dengan ujung pedangnya ketika berusia 8 tahun. Kita bahkan terbiasa memulai hari kita dengan membaca koran, bukan dengan membaca Al-Qur’an.
Bahkan, ada segelintir dari kita yang justru merasa lebih nyaman bergaul dengan temannya yang bukan muslim dibanding dengan saudaranya sesama muslim, dengan alasan bahwa temannya itu lebih toleran. Hohoho… maksud “toleran” di sini, bahwa temannya yang bukan muslim tersebut akan cuek saja, apakah kita shalat atau tidak. Segelintir itu jugalah yang merasa risih dengan teman muslimnya yang “tidak toleran”, karena teman muslimnya tersebut sering menasehatinya untuk menjauhi pacaran.
Lambat laun, hati kita cenderung lebih menyukai mereka yang bukan muslim tersebut. Hal-hal inilah yang akan melemahkan hati, sehingga tiap akhir tahun, dengan mudahnya kita mengirim SMS “‘Met Natal & Tahun Baru”. Tidakkah kita merasa bahwa dengan SMS ini, sama saja menyatakan keridhaan kita atas agama mereka? Apa kita mau menyatakan bahwa agama mereka benar?
Saudaraku…………….
Tahukah engkau bahwa kaum musliminlah yang dulu menguasai peradaban dari eropa hingga asia selatan
Kaum musliminlah yang menjadi mercusuar ilmu pengetahuan, dan menjadi rujukan dunia, disaat manusia mencampakkan ilmu pengetahuan
Kaum musliminlah yang pertama kali memuliakan wanita, ketika manusia menganggapnya sebagai makhluk rendahan
Namun, dengan berbagai prestasi kaum muslimin tersebut, mengapa justru kita sekarang terpuruk?
Kenapa kita sekarang malah minder dalam ber-islam?
Ada berbagai macam alasan mengapa kita banyak yang tidak percaya diri dengan identitas keislamannya. Namun semuanya bermuara pada satu sebab. Yaitu kurangnya ilmu agama kita. Minimnya ilmu agama membuat kita tidak yakin akan kebaikan dari agama kita. Sehingga, segala aturan dalam syariat itu dianggap sebagai kekangan, hal yang membuat dada kita terasa sesak. Harus make jilbab lah! Pacaran nggak boleh lah! Harus shalat di masjid lah! Padahal syariat yang agung ini, mengatur hal-hal tersebut demi kebaikan kita sebagai manusia.
Media juga memiliki andil besar dalam membentuk pola pikir kita. Hegemoni barat dalam media sudah melewati pintu-pintu rumah kita setiap hari melalui televisi. Acara fiksi, gaya hidup, musik hingga talkshow, semua sebagian besar dari barat. Melalui televisi lah pola pikir kita dibius: barat adalah sumber kemajuan, apa-apa yang datang dari barat adalah kebenaran.
Di tengah serbuan produk kebudayaan barat tersebut, kita harus bisa memilih, mau sepenuhnya mengekor buta (taqlid) terhadap kebudayaan barat, atau tetap berpegang teguh pada kesempurnaan ajaran Islam dengan memilah apa-apa yang datang dari mereka.
“Dan kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebaikan dan keburukan” [Q.S. Al-Balad:10]

Namun, bukan berarti kita menolak secara mutlak apa-apa yang datang dari mereka. Yang dilarang untuk diikuti, adalah apa-apa yang merupakan kekhasan mereka, baik itu penampilan, perayaan maupun pola pikir mereka. Dalam hal-hal yang sifatnya sarana duniawi (teknologi), kita boleh mengambil dari mereka.
Dari berbagai alasan di atas, maka :
  1. Mulailah belajar agama secara serius. Ilmu agama tidak hanya yang kita dapatkan melalui 2 jam pelajaran agama dalam seminggu di kelas, ataupun hanya melalui khutbah Jumat di masjid. Mulailah ikut pengajian-pengajian. Pilihlah pengajian yang materinya mengajarkan tauhid terlebih dahulu. Karena tauhid-lah yang merupakan inti agama kita. Dengan tauhid yang benar, maka kita bisa memilah mana yang baik dan mana yang buruk. Dengan tauhid yang benar, maka kita belajar mengikhlaskan apa-apa yang kita lakukan, sehingga selalu dinilai ibadah disisi Allah k.
  2. Memilih pergaulan yang baik. Teman yang baik akan mendorong kita untuk melakukan hal yang baik. Dia juga akan mengingatkan kita ketika kita berbuat salah.
  3. Memilah media. Apa yang kita lihat dan dengar akan mempengaruhi pola pikir kita. Jauhilah menonton cerita fiksi dan membaca komik. Banyak-banyaklah membaca kisah-kisah keteladanan orang-orang shalih. Ambillah pelajaran dari cara hidup mereka yang bersahaja. Lalu, berhati-hatilah juga terhadap acara-acara diskusi/talkshow yang ada di televisi. Karena kebanyakan acara diskusi tersebut tidak berlandaskan pada nilai-nilai Islam, sehingga hasil dari acara diskusi seringkali bertentangan dengan agama kita. Acara seperti ini walau tidak terkesan mendikte, tapi menyusupi pola pikir kita secara halus dengan metode dialog, diskusi, obrolan, dan semacamnya.
Saudaraku……
Marilah kita mulai memulai hidup yang lebih baik. Memilih hidup dengan cara Islam, hidup dengan apa-apa yang diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Bukankah kita sekarang sudah cukup dewasa? Sudah bisa mengambil keputusan? Ingatlah bahwa masa muda adalah suatu titik penentuan yang akan menentukan masa depan kita. Tiap orang memiliki pertimbangan. Tiap pilihan memiliki konsekuensi. Namun, orang berakal pasti akan menentukan pilihan hidupnya dengan pilihan yang merupakan wujud syukur atas nikmat terbesar yang didapatkannya, yaitu nikmat hidayah Islam.
“Sungguh, kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus; ada yang bersyukur, ada pula yang kufur” [Q.S. Al-Insan:3]. Wallahu alam bish showwab.
(ditulis pada pertengahan Februari, ditengah keprihatinan atas banyaknya pemuda Islam yang ikut merayakan Valentine’s Day) (Ristyandani)

http://tashfiyah.net/?p=616 

AL KISAH

Kutukan Kera yang Hina bagi Kaum Yahudi yang Melanggar Aturan Hari Sabtu

Pada masa Bani Isroil, tersebutlah sekumpulan penduduk negeri yang bernama negeri Ailah. Negeri ini berada dipinggir laut. Allah Ta’ala menguji mereka dengan mengharamkan mereka untuk bekerja menangkap ikan di hari sabtu. Jika datang hari Sabtu, semua ikan di laut muncul keluar sampai mulut-mulut ikan itu kelihatan di atas permukaan air, sedangkan pada hari Ahad, ikan-ikan itu masuk ke dasar laut, sehingga tidak ada satupun ikan yang terlihat sampai tiba hari sabtu berikutnya.

Diantara penduduk Ailah itu, ada seseorang yang ingin tetap mendapatkan ikan walaupun di hari Sabtu. Maka seseorang membuat lubang dan saluran dari laut menuju lubang tersebut. Jika datang hari Sabtu, orang itu membuka saluran tadi. Jika datang ombak, ombak itu akan melemparkan ikan ke lubang tersebut. Ikan itu ingin keluar dari lubang tetapi tidak bisa, karena air yang ada di saluran tersebut sangat sedikit sehingga ikan itu tetap berada di lubang tersebut.

Setelah hari Ahad, orang itu mendatangi lubang yang ia buat dan mengambil ikan yang ada di sana. Kemudian orang itu memanggang ikan hasil tangkapannya. Terciumlah bau ikan tersebut oleh tetangganya. Si tetangga bertanya kepada orang itu, “bagaimana bisa mendapat ikan di hari sabtu?”, maka orang itupun memberitahu dari mana ia mendapatkan ikan. Si tetangga kemudian meniru apa yang dilakukan orang itu. Sampai akhirnya, perbuatan mereka berdua menyebar luas, dan beramai-ramai mereka memakan ikan dengan cara seperti tadi.
Para ulama mereka mengingatkan, “Sebenarnya kalian itu menangkap ikan pada hari sabtu. Ikan itu tidak halal bagi kalian.” Tetapi orang-orang yang menangkap ikan itu berkata: “kami hanya menangkap ikan pada hari Ahad yaitu ketika kami mengambil.” Orang-orang yang faqih (paham) di antara merekapun menjawab, “tidak, tetapi kalian telah menangkap ikan pada hari kalian membuka saluran air, sehingga ikan itu masuk.” Namun orang-orang itu justru bertambah menyimpang dan durhaka.

Setelah sekian lama, ada yang berkata kepada golongan yang tidak menangkap ikan di hari Sabtu, “kenapa kalian menasihati orang-orang yang akan dibinasakan oleh Alloh atau di adzab Alloh dengan adzab yang pedih, padahal mereka tidak mentaati kalian?”.sebagian mereka menjawab, “kami menasihati mereka agar kami memiliki alasan di hadapan Alloh Ta’ala dan semoga mereka mau bertaqwa sehingga meninggalkan perbuatan mereka.”

Ketika orang-orang yang berbuat maksiat itu tetap melakukan perbuatannya, maka orang-orang yang taat berkata, “Demi Alloh, kami tidak akan tinggal satu tempat dengan kalian.” Maka mereka pun membagi negeri itu dengan sebuah tembok pembatas. Orang-orang yang taat mempunyai satu pintu, demikian pula dengan orang-orang yang durhaka mempunyai satu pintu yang lain. Mereka membuka pintu itu pada hari Sabtu. Orang-orang yang taat keluar melalui pintu mereka sendiri, dan orang-orang durhaka keluar dari pintu yang berbeda.

Sampai tiba di suatu hari, orang-orang yang taat keluar dari pintu mereka, sedangkan orang-orang yang durhaka tidak membuka pintu mereka. Orang-orang yang taat pun heran mengapa mereka tidak keluar. Maka orang-orang yang taat memanjat tembok pembatas diantara mereka. Tiba-tiba mereka melihat orang-orang yang durhaka itu telah berubah menjadi kera yang saling berlompatan antara satu dengan yang lainnya. (Tafsir Ibn Katsir: Surah Al-A’raf ayat 165-166, dengan sedikit ringkasan)
Faidah-faidah:
1. Bahwa Alloh Ta’ala jika telah melarang sesuatu maka wajib bagi kita untuk menjauhi dan kita tinggalkan.
2. Kita dilarang untuk berbuat curang atau licik juga melakukan tipu daya sebagaimana yang dilakukan oleh penduduk negeri Ailah di dalam menangkap ikan-ikan tersebut. Mereka melakukan tipu daya dan kelicikan-kelicikan sehingga Alloh Ta’ala mengadzab mereka.
3. Kita diwajibkan untuk mengikuti perkataan para ulama, selama perkataan para ulama tersebut sesuai dengan perkataan Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallama. Karena mereka lah yang lebih berilmu dibandingkan kita dan para ulama adalah pewaris para nabi.
4. Diwajibkan bagi kita untuk saling nasihat-menasihati yakni menasihati saudara kita, keluarga kita, teman-teman kita. Ketika mereka terjatuh kedalam perbuatan kemungkaran, maka kita nasihati mereka.
5. Wajib bagi kita untuk berlepas diri (Baro’) terhadap orang yang ingkar kepada Alloh Azza wa Jalla.
6. Bahwa Alloh Ta’ala akan mengadzab orang-orang yang ingkar kepada Alloh dengan adzab yang pedih.
“Dan sesungguhnya kalian telah mengetahui orang-orang di antara kalian yang melanggar pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: “Jadilah kalian kera yang hina”. Maka Kami jadikan yang demikian itu malapetaka bagi orang-orang dimasa itu, dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.”
(Al-Baqoroh: 65-66)

“Dan tanyakanlah kepada Bani Isroi’l tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami menguji mereka disebabkan mereka berlaku fasiq. Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: “Mengapa kamu menasehati kaum yang Alloh akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?” Mereka menjawab: “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Robb kalian, dan supaya mereka bertakwa. Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zhalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasiq. Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang mereka mengerjakannya, Kami katakan kepadanya: “Jadilah kalian kera yang hina.” (Al-A’roof: 163-166)



Shalatlah Ketika Segar dan Tidurlah Ketika Lelah..

Anas bin Malik Radhiallahu 'anhu menceritakan bahwa suatu ketika Nabi Shallallahu'alaihi wasallam masuk masjid. Tiba-tiba beliau mendapatkan tali yang terbentang antara dua tiang. Beliau pun berkata, “Tali apa ini?” Mereka menjawab, “Ini adalah tali milik Zainab, jika ia telah kecapaian, ia bergantungan pada tali itu.” Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda, “Lepaskan tali tersebut. Hendaklah salah seorang dari kalian melakukan shalat ketika segar, dan jika telah lelah, hendaknya ia tidur.” (Muttafaq 'alaih)

Hadits di atas merupakan dalil bagi kita untuk tidak membebani diri dengan sesuatu yang tidak kita mampu. Karena dalam kondisi di luar kemampuan, bisa jadi pikiran kita kacau, salah dalam bacaan shalat, atau bisa jadi jatuh sakit sehingga keesokan hari kita tidak bisa lagi beribadah. Maka Rasulullah memberikan kita resep : shalatlah ketika segar, dan tidurlah ketika lelah.

Dan tak cuma dalam hal shalat, hadits di atas mencakup seluruh amal ibadah, bahkan seluruh perbuatan. Seperti membaca Alquran, puasa, dzikir, menuntut ilmu dll. Begitu juga ketika bekerja mencari nafkah, perlakukanlah diri kita dengan baik, berikan haknya untuk beristirahat ketika lelah.

Maka ringankanlah urusan, kecuali apa yang memang telah diwajibkan bagi kita. Karena memang harus kita luangkan waktu untuknya. Adapun dalam hal lainnya dari perkara yang sunnah, mubah, maka janganlah kita menyiksa diri. Istirahatlah ketika letih...!!!

Semoga bermanfaat

wallahua'lam

--------------

Abu Ukkasyah



Aurat Wanita


Dari Ibnu Mas'ud ra., Rasulullah saw bersabda, "Wanita itu seluruhnya aurat." (Thabrani).
Aurat menurut bahasa adalah sesuatu perkara yang malu jika diperlihatkan. Atau bisa juga disebut, sesuatu yang menjadi aib atau cela jika diperlihatkan. Oleh sebab itu, seseorang yang menampakkan auratnya di depan yang lainnya, adalah mereka yang tidak memiliki rasa malu, atau mereka yang memiliki aib.
Allah swt. berfirman, "Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu dan anak-anak perempuanmu, dan istri-istri kaum mukminin, hendaknya mereka memanjangkan jilbab mereka ke seluruh tubuh. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, dan karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al Ahzab: 59).
Syaikh Rasyid Ridha, dalam kitabnya 'Nida Lil Jinsil Lathif menerangkan latar belakang turunnya ayat ini, bahwa sebelum ayat ini diturunkan, kaum wanita mukminat biasa rnengenakan pakaian seperti lazimnya wanita-wanita non-muslimah pada masa jahiliyah, yaitu terbuka leher dan sebagian dada-dada mereka. Hanya sesekali mereka rnengenakan jilbab, itu pun tidak merata. Jilbab adalah sejenis pakaian luar yang menutupi seluruh anggota tubuh. Jika mereka merasa perlu mereka memakainya, tetapi jika tidak, mereka tidak akan memakainya. Orang-orang yang usil, lantas mengganggu mereka lantaran wanita-wanita itu disangka amat (hamba sahaya wanita). Sebab memang 'amatlah yang sering kali sengaja mempertontonkan sebagian dari anggota tubuh mereka. Kebiasaan itulah yang kemudian dijadikan sarana oleh kaum munafik untuk mengganggu kaum wanita mukminah, termasuk istri-istri Nabi. Dan mereka beralasan bahwa mereka menyangka wanita-wanita itu adalah amat. Oleh sebab itu, Allah memerintahkan kepada seluruh wanita mukminah agar memanjangkan jilbab-jilbab mereka dengan menutup kepala, leher sampai dada mereka. Dengan demikian mereka dapat mengenali bahwa wanita-wanita yang memakai jilbab adalah wanita-wanita mukminah.
Menutup aurat bagi wanita adalah hikmah dari Allah Ta'ala untuk menyelamatkan kaum wanita dari bahaya fitnah. Sebagaimana ditegaskan oleh Umar bin Khattab ra., beliau berkata, "Bertaqwalah kepada Allah Tuhan kalian. Dan jangan biarkan istri dan anak perempuan kalian mengenakan pakaian Qibthi, karena sekalipun tidak tipis namun ia dapat menimbulkan rangsangan dan mengundang fitnah." (Tarikh At Thabari: IV/215).
Dr. Anwar Jundi menulis, bahwa Islam menekankan agar wanita melindungi diri dengan cara memakai pakaian yang menutup seluruh auratnya, mengharamkan berduaan dengan pria yang bukan mahramnya, dan seluruh aktifitas yang akan mendatangkan maksiat. Usaha-usaha ini adalah untuk menyelamatkan wanita dari fitnah, dan menyelamatkan masyarakat dari fitnah wanita.
Beliau menambahkan bahwa dengan beragam cara pula musuh-musuh Islam mempropagandakan 'bugilisme'. Mereka mencanangkan falsafah buruk yang lepas dari norma-norma masyarakat. Mereka menciptakan rancangan pakaian dengan tidak membedakan mana pakaian untuk pria dan mana pakaian untuk wanita, sehingga tidak ada lagi garis pembeda yang memisahkan di antara keduanya. Akibatnya, perbuatan haram pun berkembang, yaitu wanita nampak seperti pria atau pria nampak seperti wanita. Hal ini karena dipengaruhi oleh mode pakaian.

Berjilbab
















Wudhu dan Adab-Adabnya


- Wudhu adalah syarat sahnya shalat. Firman Allah,

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai kedua mata kaki.” (Al-Ma’idah: 6).
- Niat. Karena wudhu adalah ibadah dan dengan niat, ibadah bisa dibedakan dari pekerjaan biasa. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya amal itu bergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang hanya akan memperoleh apa yang ia niatkan.” (Bukhari, Muslim).
- Niat bersuci dari hadats kecil. Jangan sampai tertinggal niat, hingga membasuh muka. (As-Syafi’i). * Sebaiknya berniat bukan hanya untuk mensucikan badan, tetapi juga membersihkan kotoran hati. (Imam Hanafi).
- Disunnahkan berwudhu di rumah sebelum pergi ke masjid, sebab setiap langkah yang dilangkahkan ke masjid dalam keadaan wudhu yang sempurna akan berpahala menghapus dosa dan mengangkat derajat. (Bukhari).
- Memulai wudhu dengan membaca basmalah. (Tirmidzi, Ibnu Majah, Nasa’i).
- Dianjurkan menghadap kiblat ketika berwudhu. (Imam Nawawi).
- Ditekankan bersiwak setiap berwudhu. Jika tidak ada, dapat menggunakan jari telunjuk. (Bukhari, Muslim). * Bersiwak dapat menjadi wajib, jika setelah memakan bawang putih atau merah pada hari Jum’at. (Imam Nawawi).
- Setiap bersiwak, disunnahkan lebih dahulu membasuh kedua tangan sampai pergelangan tangan sebanyak tiga kali. Kemudian berkumur, menghirup air ke hidung dan mengeluarkannya, membasuh muka, menyela-nyela janggut dengan jari yang basah, membasuh kedua lengan dari ujung tangan hingga ke atas siku, lalu mengusap kepala sekali, membasuh telinga sekali dan terakhir membasuh kedua kaki sampai mata kaki. (Bukhari, Muslim, Nasa’i).
- Cara mengusap kepala satu kali dalam berwudhu adalah: Meletakkan sebagian jari jemari telapak tangan di bagian depan ujung kepala tempat tumbuhnya rambut, lalu ditarik ke belakang sampai ke tengkuk, kemudian dikembalikan lagi ke depan ke bagian yang pertama tadi. (Abu Dawud). * Membasuh khusus tengkuk bukanlah bagian wudhu. (Imam Nawawi).
- Jangan membasuh muka dengan menyiram air langsung. Baik ditampung dulu di kedua telapak tangan, lalu diusapkan ke muka. (Imam Nawawi).
- Cara membasuh kedua telinga satu kali dalam wudhu yaitu: Dua jari telunjuk diletakkan di lubang telinga, lalu diputarkan ibu jari membasuh bagian luar telinga. (Abu Dawud). * Membasuh telinga hendaknya dengan air yang baru, bukan dengan air setelah membasuh kepala. (Imam Nawawi).
- Cara mencuci kaki dalam berwudhu ialah; Renggangkan jari-jari kaki dan disela-sela dengan jari-jari tangan dari kelingking kanan ke kiri. (Abu Dawud) . * Lebih utama jika mencucinya hingga ke betis. (Abu Hurairah).
- Hendaknya berwudhu dengan tertib, berurutan, dan sempurna. Jangan tertinggal walaupun setitik bagian wudhu. Kebanyakan adzab kubur disebabkan wudhu yang tidak sempurna. Termasuk berhati-hati dan memperhatikan bagian di bawah kuku dan cincin agar tidak tertinggal wudhu. (Bukhari, Muslim).
- Sunnah membasuh bagian wudhu tiga kali. Jangan menambah lebih dari tiga kali. Barangsiapa menambahnya, berarti telah menzhalimi din sendiri. (Nasa’i, Ibnu Majah, Abu Dawud). * Boleh membasuh kurang dari tiga kali, jika memang ada udzur, seperti; Waktu sempit, air sedikit, dsb. (Imam Nawawi).
- Disunnahkan mendahulukan anggota sebelah kanan ketika berwudhu, kemudian bagian sebelah kiri. (Bukhari, Muslim, Nasa’i).
- Sunnah shalat dua rakaat sunat Syukur Wudhu setiap selesai wudhu. Dan dilakukan tanpa diselingi oleh pembicaraan. (Bukhari, Muslim, Nasa’i). * Antara shalat Syukur Wudhu dan shalat wajib sebaiknya memperbanyak istighfar. (Ahmad).
- Doa memulai wudhu :

Artinya: “Ya Allah, ampunilah segala dosaku, lapangkanlah rumah tanggaku, dan berkatilah rezeki untukku.” (Dailami, Ibnu Asakir).

- Disunnahkan melihat langit, lalu membaca doa selesai wudhu;

 Artinya: “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah diriku dari golongan orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah diriku dari golongan orang yang bersuci,” (Muslim). * Barangsiapa membaca doa di atas setelah wudhu, niscaya akan dibukakan baginya delapan pintu surga yang darimana saja ia dapat memasukinya. (Tirmidzi, Nasa’i).
- Jangan berwudhu di tempat orang buang air. Khawatir ada air najis yang tersisa, sehingga mengenai badan kita ketika berwudhu. (Tirmidzi, Dailami). * Bila terpaksa wudhu di WC, siramlah dulu sampai bersih sebelum berwudhu.

- Sunnah menjaga kelangsungan wudhu dan menggantinya setiap batal. (Hakim). * Menjaga wudhu berarti menjaga kelangsungan kelapangan rezeki. Allah berfirman, “Hai Musa, jika engkau mengalami musibah sedang engkau tidak dalam keadaan wudhu, maka jangan engkau menyalahkan kecuali dirimu.” (Hadits Qudsi).

- Dianjurkan agar melamakan ‘ghurah’ dan ‘tahjil’. (Muslim, Bukhari). * Ghurrah, adalah membasuh sebagian dari kepala bagian depan. Sedang ‘Tahjil’ adalah membasuh sebelah atas siku, ketika membasuh kedua tangan, dan sebelah atas mata kaki ketika membasuh kedua kaki. “Sesungguhnya umat ini akan diseru pada hari Kiamat dalam keadaan cemerlang kening, kedua tangan dan kedua kaki mereka, karena bekas-bekas wudhu. (Bukhari, Muslim).

- Diwajibkan berwudhu ketika akan melaksanakan shalat, membaca Alquran, sa’i, wuquf, jumrah, baligh, setelah tertawa keras dalam shalat.

- Dan disunnahkan berwudhu ketika akan tidur ( Bukhari ), akan mengulangi persetubuhan dengan istri ( Abu Dawud ), menengok orang sakit ( Bukhari ), setelah makan sesuatu yang dimasak ( Muslim ), setelah memakan daging kambing dan unta ( Muslim ), setelah menyentuh kemaluan ( Baihaqi ), ketika marah, agar reda marahnya ( Ahmad, Abu Dawud ), keluar dari WC ( Ahmad ), akan adzan, akan menziarahi kubur Nabi saw., mempelajari hadits atau tafsir, setelah berghibah atau berbohong.

- Jangan berbicara ketika berwudhu. ( Nasa’i ).

- Jangan boros. Dianjurkan menggunakan air sehemat mungkin. (Bukhari, Ibnu Majah, Abu Dawud). Nabi saw. bersabda, “Hematlah dalam memakai air walaupun di atas lautan. (Ahmad, Ibnu Majah).

- Air bekas wudhu dapat dipakai sebagai obat ( Bukhari ). Air bekas wudhu dapat menyembuhkan tujuh puluh penyakit ( Dailami ). * Caranya: Kita berwudhu di atas ember, sehingga air bekas wudhu itu akan jatuh ke dalam ember. Kemudian air itu diminumkan kepada si sakit.

- Sebaiknya jangan berwudhu dibantu orang lain. (Ibnu Najjar, Al-Bazzar).



Hal-Hal Yang Membatalkan Wudhu

 Ada sesuatu yang keluar dari salah satu di antara dua jalan, seperti kencing, tahi, darah atau angin. (An-Nisa’: 443 - Bukhari, Muslim). * Allah tidak menerima shalat seorang apabila berhadats, sebelum ia berwudhu.

 Tidur yang tidak mantap. Maksud mantap ialah tidur sambil duduk, dan pantat menempel rapat di tempat duduk. Dan tidak mantap, yaitu jika pantat renggang dari tempat duduk. Nabi saw. bersabda, “Barangsiapa tidur, maka hendaklah berwudhu.” (Abu Dawud). * Tidur dengan sikap mantap, tidak membatalkan wudhunya. ( Bukhari, Muslim ).

 Hilang akal, baik dikarenakan mabuk, pingsan, sakit, ataupun gila.

 Bersentuhan antara laki-laki dengan istrinya atau wanita asing, tanpa ada penghalang. (An-Nisa’: 43).

 Menyentuh farji/ alat vital sendiri atau farji orang lain, baik dubur maupun qubul ( penis/ vagina ), dengan telapak tangan atau jari-jari, tanpa ada penghalang.

SUNNAH -SUNNAH BERWUDLU

 
1.     mengucapkan basmalah (bismillah).
2.    mencuci kedua telapak tangan 3 x pada permulaan berwudhu.

3.    memulai dengan berkumur-kumur dan ber instinsyaaq  (memasukkan air kedalam hidung) sebelum mencuci wajah.

4.    ber instintsaar (membuang air dari hidung setelah ber instinsyaaq) dengan tangan kiri. sesuai dengan hadits : “lalu rasulullah saw. mencuci kedua telapak tangannya 3 kali, kemudian berkumur-kumur dan memasukkan air kedalam hidungnya dan membuangnya kembali, dan beliau mencuci wajahnya tiga kali”. (hr. bukhari dan muslim).

5.    mubaalaghah (berlebih-lebihan) dalam berkumur-kumur dan memasukkan air kedalam hidung bagi orang yang tidak berpuasa: berlebih-lebihanlah dalam memasukkan air kedalam hidungmu kecuali jika kamu sedang berpuasa”. (di riwayatkan oleh sunan yang empat).

yang di maksud dengan al mubaalaghah (berlebih-lebihan) dalam berkumur-kumur ialah: meratakan air di seluruh bagian-bagian mulut.

sedangkan yang di maksud dengan al mubaalaghah (berlebih-lebihan) dalam ber instinsyaaq  ialah: menarik air ke dalam hidung sampai bagian atas.

6.    berkumur-kumur dan berinstinsyaaq dari satu telapak tangan, dengan tidak memisahkan diantara keduanya: “kemudian beliau memasukkan tangannya dan berkumur dan berinstinsyaaq  dari satu telapak tangan”. (hr. bukhari dan muslim).

7.    bersiwak ketika sedang berkumur-kumur. dengan dalil yang berbunyi:

“seandainya tidak memberatkan bagi umatku, maka akan kuperintahkan mereka bersiwak setiap kali mereka berwudhu”. (hr. ahmad dan an nasaai).

8.    menyela-nyela jenggot yang tebal ketika mencuci wajah. “adalah rasulullah saw. menyela-nyela jenggotnya ketika berwudhu”. (hr. tirmidzi).

9.    cara membasuh kepala:

·  membasuh dari permulaan rambut (ubun-ubun) sampai akhir tengkuk kemudian dikembalikan lagi basuhannya ke depan (ubun-ubun).

· adapun basuhan yang wajib ialah: membasuh kepala secara merata dengan cara yang tidak di tentukan,  dan “rasulullah saw. membasuh kepalanya dengan kedua tangannya di mulai dari permulaan rambutnya (sampai ketengkuk) kemudian beliau mengembalikan lagi basuhannya (ke depan bagian permualaan rambut)”. (hr. bukhari dan muslim).

10.  menyela-nyela jari-jari kedua tangan dan kaki, rasulullah saw. bersabda:

“sempurnakanlah wudhu dan sela-selalah jari-jari tangan dan kaki”. (di riwayatkan oleh sunan yang empat).

11.  memulai mencuci bagian yang kanan dari yang kiri ketika mencuci tangan dan kaki.

“rasulullah saw. senang memulakan sesuatu dengan bagian yang kanan ketika memakai alas kaki…dan ketika bersuci”. (hr. bukhari dan muslim).

12.  mencuci lebih dari satu kali sampai tiga kali, ketika beliau saw. mencuci wajah, kedua tangan dan kedua kaki.

13.  mengucpkan syahadatain ketika selesai berwudhu, dengan mengatakan:
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله
  
artinya: “aku bersaksi bahwasanya tidak ada tuhan kecuali allah, yang maha esa tidak ada sekutu bagi-nya, dan aku bersaksi bahwasanya muhammad adalah hamba dan utusan-nya”.
dan faidahnya ialah: akan di bukan untuknya pintu surga yang delapan dan ia bebas memilih di pintu mana ia akan masuk”. (hr. muslim).

14.  berwudhu di rumah: rasulullah saw. bersabda:

“barangsiapa yang berwudhu di rumahnya, kemudian berjalan menuju salah satu rumah (mesjid) dari rumah-rumah allah swt. untuk melaksanakan shalat fardhu dari shalat-shalat fardhu yang di wajibkan oleh allah swt. maka setiap ia melangkahkan kedua kakinya (akan tercatat) langkah kaki yang pertama akan menggugurkan dosanya dan langkah kaki yang kedua akan mengangkat derajatnya”. (hr. muslim).

15.  menggosok, yaitu: tangan menggosok anggota badan (yang di basahi ketika berwudhu) dengan air.

16.  irit dalam memakai air, “adalah rasulullah saw. berwudhu dengan satu mud (hanafiyah: 1.032 liter = 815,39 gram, syafiiyyah + malikiyyah + hanabilah: 0,687 liter = 543 gram). (hr. bukhari dan muslim).

17.  melewati batas yang wajib di basuh ketika membasuh empat anggota badan (anggota wudhu), yaitu: kedua tangan dan kedua kaki, ( karena abu hurairah ra. berwudhu kemudian beliau mencuci tangannya sampai lengannya, dan mencuci kakinya sampai ke betisnya, kemudian beliau mengatakan: beginilah aku melihat rasulullah saw. berwudhu”. (hr. muslim).

18.  shalat dua raka’at setelah berwudhu, rasulullah saw. bersabda:

“ barangsiapa yang berwudhu seperti wudhu saya ini, kemudian ia shalat dua raka’at dan ia tidak berhadats pada keduanya, maka akan di ampuni dosanya yang telah lalu”.  di riwayatkan oleh bukhari dan muslim dan dalam periwayatan muslim dari hadits uqbah bin ‘aamir “maka ia akan di masukkan ke dalam surga”.

19.  menyempurnakan wudhu, yaitu : memberikan setiap anggota badan (yang akan di cuci atau di basuh ketika berwudhu) haknya dengan pencucian yang sempurna.

20.  seorang muslim mungkin akan berwudhu beberapa kali dalam sehari semalam, sebagian mereka ada yang berwudhu lima kali sehari semalam, dan ada yang lebih dari lima kali ketika ia ingin melaksanakan shalat dhuha atau shalat malam (tahajjud), maka sesuai dengan berapa kali seorang muslim berwudhu dalam sehari semalam, maka ia mempraktekkan sunnah-sunnah wudhu ini  dan mengulanginya, maka ia akan memperoleh pahala yang besar.

21.  faidah menerapkan sunnah-sunnah ini ketika berwudhu, ialah:

dia akan tergolong dalam sabda rasulullah saw. yang berbunyi:

“barangsiapa yang berwudhu dan memperbaiki (menyempurnakan) wudhunya, maka akan keluar dosa-dosanya dari tubuhnya sampai keluar dari bawah kuku-kukunya”. (hr. muslim).
·setiap manusia akan masuk wc. siang dan malam secara berulang-ulang , dan setiap masuk dan keluar ia menerapkan sunnah ini yaitu dua sunnah ketika masuk dan dua sunnah ketika ia keluar.

diantara sunnah-sunnah masuk dan keluar dari wc. ialah:

·masuk wc. dengan kaki kiri dan keluar dengan kaki kanan.

· berdo’a sebelum masuk: 
artinya: ya allah ! sesungguhnya aku berlindung kepada-mu dari godaan syetan laki-laki dan perempuan”. (hr. bukhari dan muslim).

·



dan berdo’a ketika telah keluar: غفرانك“gufraanak” 
artinya : “aku minta ampun kepada-mu”. (di riwayatkan oleh ashhabu sunan kecuali an nasaai).

·  bersiwak (membersihkan mulut dengan kayu siwak), “ketika rasulullah saw. bangun dari tidur pada malam hari, beliau menggosok mulutunya dengan siwak”. (hr. bukhari dan muslim).
 SUNNAH- SUNNAH BANGUN TIDUR

. membasuh bekas tidur dari wajah dengan tangan. ibn hajar dan an nawawi mengatakan bahwasanya hal ini adalah sunnah berdasarkan hadits yang berbunyi:
“rasulullah saw. bangun dari tidurnya kemudian beliau duduk dan membasuh bekas tidur dari wajahnya dengan tangannya”. (hr. muslim).


.mengucapkan do’a yaitu: ( الحمد لله الذي أحيانا بعدما أماتنا وإليه النشور ) رواه البخاري

.artinya: “segala puji bagi allah swt. yang telah menghidupkan kami kembali, setelah kami mati (tidur) dan kepada-nyalah kami akan kembali”.


diantara hikmah dari hal tersebut ialah:

1. diantara keistimewaan bersiwak ialah menghilangkan rasa ngantuk dan membuat orang merasa segar.

2. menghilangkan bau mulut.


Gambar Ringkas "Mustholah Hadist"

http://www.belajarhadits.com/images/stories/kajian/MustholahAhadits-3.jpg

my lovely