Senin, 11 Maret 2013

Rahasia dzikir يا بد يع (Ya badii’u )

 يا بد يع  (Ya badii’u )

artinya :“Ya alloh dzat yang maha pencipta segala sesuatu tanpa perumpamaan “

Khasiatnya : barang siapa yang berdzikir dengan kalimat tersebut maka akan tercapai sesuatu ilmu yang dicita-citakan serta akan di beri kepahaman terhadap sesuatu yang tidak dipahaminya ,
Kalimat yaa badi’u yaitu untuk mendatangkan keinginan dan menolak kemelaratan dan barang siapa membaca Yaa Badi’u sebanyak tujuh puluh ribu kali maka Alloh akan mengalirkan hikmah di hatinya dan di dalam ucapannya .

Minggu, 10 Maret 2013

Batik, Seribu Tahun Lagi


Sebagai tindak lanjut diakuinya Batik Indonesia sebagai warisan budaya takbenda oleh UNESCO, acara World Batik Summit (WBS) 2011 diselenggarakan pada akhir September lalu, dengan maksud untuk memperingati Hari Batik Nasional. Acara yang dibuka oleh Presiden RI Susilo bambang Yudhoyono, betujuan untuk semakin memantapkan citra budaya batik ke dunia internasional.
Partisipasi Djarum Apresiasi Budaya dalam kegiatan tersebut, adalah wujud nyata komitmen dan kepedulian Djarum Apresiasi Budaya terhadap pelestarian batik Indonesia, terutama batik Kudus.
Selain berpartisipasi dalam event World Batik Summit di Jakarta, Djarum Apresiasi Budaya juga terlibat dalam kegiatan Pameran Batik Nasional yang bertajuk Batik, seribu tahun lagi, di Lapangan Jetayu, Pekalongan.

Kudus Perlu Regenerasi Pembatik

26 Juni 2012 | 16:17 WIB
KUDUS, suaramerdeka.com - Minimnya minat masyarakat, terutama generasi muda untuk menekuni batik, membuat regenarasi pembatik di Kabupaten Kudus kian terancam. Hal ini dirasakan betul oleh pemilik Alfa Batik Kudus Ummu Asiyati ketika mencari perajin batik untuk membantu pekerjaannya.
''Sekarang salah satu kendala kami adalah tenaga kerja. Karena pada umumnya generasi muda lebih memilih kerja di pabrik dari pada susah-susah jadi pembatik,'' terangnya di sela-sela kegiatan pelatihan membatik oleh Dinas Perindustrian, Koperasi dan UMKM di Alfa Batik Kudus, Selasa (26/6).
Ummu mengaku, seni membatik memang tidak mudah, namun dia yakin dengan keseriusan dan kerja keras, pekerjaan membatik akan mudah dipelajari. Bahkan, sebelumnya dia juga belajar membatik dari nol dan harus belajar ke berbagai daerah untuk mengasah kemampuannya.

BATIK KUDUS HARUS KEMBALI KE PAKEMNYA



Batik kudus punya ciri khas yang sangat berbeda dengan kota lain, walaupun motifnya bisa sama misalnya merak,tapi latarnya akan tetap berbeda, yang paling mudah membedakan adalah beras kecernya harus kelihatan seperti beras asli, bentuknya unik tidak sekedar di tutul memanjang, sedangkan latar kembang randu juga sangat cantik & unik, karena tidak dijumpai dikota lain, warnanya khas seperti: hijau, ungu & biru, kadang-kadang juga ditambah warna merah & sogan seperti batik Tiga negeri.........,"

Menyelamatkan Batik Kudus Lewat Workshop

Selasa, 11 September 2012 | 17:22 WIB

Di Senin siang (10/9) yang garang itu, di salah satu bangunan bernama "Galeri Batik Kudus" di Jalan Jepara Km 35, Garung Lor, Kaliwungu, Kudus, serombongan ibu-ibu dari Jakarta, tampak antusias bertanya kepada para pembatik.Dari dandanan mereka, jelas bukan "sembarang ibu-ibu". Tampak di sana ada ibu Poppy Hayono Isman, ada ibu Anie Sumadi yang ratu kuis di era 90an, dan ibu-ibu lainnya yang berdandan cantik dan beraroma wangi.Ibu-ibu yang dikomandani oleh Jultin Ginandjar Kartasasmita itu dari Yayasan Batik Indonesia, sebuah lembaga nirlaba yang didirikan pada tanggal 28 Oktober 1994 yang merupakan ujud dari persamaan kehendak para pecinta, pengrajin, pengusaha dan pemerhati batik serta dijiwai oleh semangat Sumpah Pemuda juga merupakan mitra kerja Pemerintah dalam mengembangkan, melestarikan dan membina pengusaha/pengrajin batik nasional.Menurut Jultin,  yayasan yang dipimpinnya itu memiliki misi budaya, yakni mendorong dan menggalang partisipasi masyarakat akan kepedulian terhadap keberadaan batik sebagai aset budaya yang berakar kepada keragaman budaya setempat untuk dilestarikan dan dikembangkan, untuk itu dalam jangka panjang salah satu upaya yang akan ditempuh adalah didirikannya museum batik nasional.Kedatangan mereka hari itu, memang disengaja untuk menyemangati para perajin batik di Kudus yang belakangan keberadaanya rada tersingkir dari gemerlapnya batik Pekalongan, Solo dan Yogyakarta.Di bangunan yang tak seberapa luas, dengan pajangan batik di berbagai sudut, para ibu dari Yayasan Batik Indonesia mulai bertanya berbagai hal menyangkut batik Kudus dan kegiatan yang berlangsung di Galeri Batik Kudus. Menyelamatkan batik Kudus lewat workshop Galeri Batik Kudus membuka pelatihan membatik secara gratis kepada warga setempat. Ini ditempuh karena disadari jumlah pembatik tulis makin sedikit dan perlu diremajakan.Menurut Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation, Renitasari, di Kudus, Senin, program pembinaan dan pelatihan membatik tersebut, sebagai dukungan terhadap perkembangan batik tulis di Kabupaten Kudus yang jumlah pembatiknya mulai menurun.Masing-masing peserta pelatihan akan mendapatkan peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan untuk membatik. "Jika sudah mahir dan bisa mendesain sendiri, hasil membatiknya bisa dijual ke galeri untuk dipasarkan," ujar Renita.Batik adalah karya budaya yang mewakili identitas indonesia di tingkat internasional. Dalam selembar kain batik, terpapar identitas budaya dan sejarah sebuah daerrah atau kota. Ada ribuan jenis dan motif batik yang lahir dan berkembang di banyak daerah di Indonesia. Salah satu jenis batik dengan motif unik dan menarik adalah batik Kudus.

Sebagai produk yang dihasilkan dari salah satu daerah di pulau jawa yang merupakan pusat perkembangan agama Islam serta memiliki pengaruh kuat budaya Cina, menjadikan batik Kudus sebagai sebuah karya multi kultur. Sejarah mengungkapkan bahwa pengaruh budaya dari pedagang-pedagang Cina kaya zaman dahulu yang mendatangkan pembatik-pembatik dari Pekalongan menciptakan batik peranakan dengan ciri khas batik Kudus. Selain itu, Kudus juga menghasilkan batik-batik yang sangat dipengaruhi budaya Islam. Hal ini tercermin dalam batik-batiknya yang bermotif Arab (batik kaligrafi), dengan didominasi warna-warna yang cenderung gelap, seperti biru tua dan hitam.Di kalangan pencinta kain, batik Kudus dikenal sebagai batik peranakan yang halus dengan isen-isen (isian dalam ragam pola utama) yang rumit sebagaimana umumnya batik Jawa Tengah. Diantara isen-isen yang dikenal dalam Batik Kudus adalah isen gabah sinawur, moto iwak, mrutu sewu dan lain sebagainya. Batik Kudus juga dikenal dengan warna-warna sogan (kecoklatan) dengan corak tombak, kawung atau parang, tetapi juga dihiasi dengan buketan (rangkaian bunga) dengan imbuhan pinggiran lebar, taburan kembang, kupu-kupu dan burung dengan warna-warna cerah. Tentang Djarum Apresiasi Budaya Sejak tahun 1992, Djarum Foundation melalui program Djarum Apresiasi Budaya mulai mengembangkan bentuk-bentuk kerpedulian terhadfap hasil budaya bangsa, sebagai bentuk konsistensi untuk turut serta membangun Negeri Indonesia yang bukan saja kuat secara ekonominya, tapi juga menjaga kelestarian dan kekayaan budaya demi terwujudnya Indonesia
di masa depan yang lebih baik dan bermartabat. Djarum Apresiasi Budaya mempunyai misi meningkatkan kecintaan apresiasi masyarakat terhadap kekayaan budaya Indonesia, mendukung insan kreatif untuk terus berkarya, menggali potensi, mengembangkan dsan melestarikan keindahan, serta keragaman budaya Indonesia.Djarum Apresiasi Budaya telah mendukung lebih dari 1.000 kegiatan budaya dan telah menjalin kerjasama dengan para budayawan, seniman, dan kelompok kesenian dalam mengaktualisasikan gagasan kreatifnya. Sejak tahun 2011, Djarum Apresiasi Budaya mulai menggiatkan dan fokus mendukung berbagai program seni pertunjukan Indonesia. Berbagai karya telah dihadirkan dan mendapatkan apresiasi yang sangat besar dari masyarakat, antara lain: Teater Koma "
Sie Jin Kwie",'Jakarta Love Riots', Ali Topan The Musical, Sangkala 9/10, Beta Cinta Indonesia- GSP Kabaret Oriental, New Yorkarto, Indonesia Kita, Monolog Inggit, dan rangkaian kegiatan Indonesia Dance Festival yang mengusungf tema besar "Indonesia Menari" dengan menampilkan ribuan penari profesional maupun non profesional di tempat umum. Usaha untuk memperkenalkan kembali warisan leluhur dengan membuat terobosan-terobosan baru juga terus dilakukan. Salah satunya adalah Pangeran Drama Sinema, suatu pertunjukan dengan memadukan Sinema, Orkestra, Broadway, Wayang Kulit dan Wayang Orang.Djarum Apresiasi Budaya juga mendukung program lain seperti " INdonesia Exploride" di tahun 2011, yaitu perjalanan menjelajahi 24 propinsi di Indonesia dengan konsep yang unik dan penuh tantangan, yang dilakukan oleh seorang biker dan tim yang mendokumentasikan petualangannya melaluyi video, foto dan jurnal. Penjelajahan bukan hanya semata mengunjungi suatu tempat, namun juga melibatkan proses mengenal lebih dalam tentang sejarah, hasil budaya, serta kekayaan panorama alam daerah tersebut. Bahkan program penjelajahan ini juga didukung oleh 22 artis yang berasal dari daerah-daerah yang disinggahi. Artis-artis inilah yang menjadi sahabat Tim "Indonesia Exploride" untuk berkunjung dan memperkenalkan hasil budaya dari daerah asalnya masing-masing.Djarum Apresiasi Budaya melakukan berbagai usaha untuk memperkenalkan, menyelenggarakan "Pesona Batik Kudus" yaitu suatu kegiatan yang bertujuan untuk mengangkat daya apresiasi terhadap hasil kerajinan asli Indonesia yang sudah nyaris punah. Usaha ini dilakukan untuk melestarikan batik Kudus dan membantu meningkatkan industri batik di kota Kudus.

 
Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation, Renitasari, sedang memberi keterangan mengenai Batik Kudus di, Senin (10/9).
                        
 
Editor :
Jodhi Yudono

Jumat, 08 Maret 2013

BATIK KUDUS

 
 
Sekilas Tentang Sejarah Batik Kudus
Pada era tahun 1935 batik Kudus sudah mulai ada dan berkembang pesat pada era 1970an. Corak dan motif batik Kudus sangat beragam karena pada masa itu pengrajin batik Kudus ada yang dari etnis keturunan Cina dan pengrajin penduduk asli atau pribumi.
Batik Kudus coraknya lebih condong ke batik pesisiran ada kemiripan dengan batik Pekalongan maupun Lasem karena secara geografis Kudus berdekatan. Batik Kudus yang dibuat oleh pengrajin Cina dikenal dengan batik nyonya atau batik saudagaran, yang mempunyai ciri khas kehalusan dan kerumitannya dengan isen-isennya. Dan kebanyakan dipakai oleh kalangan menengah ke atas, motif yang dibuat coraknya lebih ke arah perpaduan antara batik pesisir dan batik mataraman (warna sogan).
Batik Kudus yang dibuat oleh pengrajin asli Kudus atau pribumi dipengaruhi oleh budaya sekitar dan coraknya juga dipengaruhi batik pesisiran. Motif yang dibuat mempunyai arti ataupun kegunaan misalnya untuk acara akad nikah ada corak Kudusan seperti busana kelir, burung merak dan adapula motif yang bernafaskan budaya Islam atau motif Islamic Kaligrafi. Motif yang bernafaskan kaligrafi karena dipengaruhi sejarah walisongo yang berada di Kudus yaitu Sunan Kudus (Syech Dja’far Shodiq) dan Sunan Muria (Raden Umar Said), corak yang bernafaskan Islam karena pengrajin batik banyak berkembang disekitar wilayah Sunan Kudus atau dikenal dengan Kudus Kulon.
Salah satu motif yang juga sangat dikenal di Kudus adalah motif kapal kandas menurut sejarah yang dituturkan juru kunci Gunung Muria ada kaitan dengan sejarah kapal dampo awang milik Sampokong yang kandas di Gunung Muria, menurut sejarahnya pada masa itu terjadi perdebatan antara Sunan Muria (Raden Umar Said) dengan Sampokong.
Menurut Sampokong gunung yang dilewati adalah merupakan lautan tetapi Sunan Muria keyakinan itu adalah gunung sampai akhirnya kapal Dampo Awang kandas di Gunung Muria. Kapal tersebut membawa rempah-rempah dan tanaman obat-obatan yang sampai sekarang tumbuh subur di Gunung Muria salah satunya adalah buah parijoto yang diyakini oleh masyarakat sekitar untuk acara 7 bulanan supaya anaknya bagus rupawan.
Dan diantara tumbuhan yang ada di Gunung Muria adalah pohon Pakis Haji yang pada zaman Sunan Muria dipakai sebagai salah satu tongkat Sunan Muria dan sampai sekarang kayu pakis haji diyakini oleh masyarakat sekitar bisa mengusir hama salah satunya tikus, karena motif tersebut mempunyai alur seperti ular dan ukiran seperti kaligrafi.
Pada era 80an Batik Kudus mengalami kemunduran karena sudah tidak ada pengrajin yang berproduksi lagi karena adanya perkembangan batik printing maka pengrajin batik Kudus banyak yang gulung tikar dan akhirnya masyarakat Kudus lebih senang bekerja sebagai buruh pabrik rokok karena banyaknya industri rokok di Kudus.